OLLANESIA 2026 Meriahkan Jogja International Kite Festival di Pantai Parangkusumo
OLLANESIA 2026 Meriahkan Jogja International Kite Festival di Pantai Parangkusumo--Ist
BANTUL, LAMPUIJO.CO.ID – Olimpiade Layang-Layang Nasional (OLLANESIA) 2026 resmi digelar sebagai bagian dari rangkaian Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (11/7/2026). Kompetisi tersebut menjadi ajang bagi pelajar jenjang TK, SD, hingga SMP untuk berkompetisi sekaligus memperkenalkan budaya layang-layang kepada generasi muda.
Pada hari pertama pelaksanaan, panitia menggelar dua kategori perlombaan, yakni merakit layang-layang tingkat SMP yang diikuti tiga tim serta lomba mewarnai layang-layang kategori TK dengan 12 peserta. Kompetisi akan berlanjut pada Minggu (12/7/2026) dengan kategori mewarnai untuk TK kloter kedua, SD kelas 1–3, dan SD kelas 4–6.
Para peserta memperebutkan Piagam Penghargaan dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Piala Putri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta total hadiah sebesar Rp7 juta.
Ketua Angkasa Satu selaku penyelenggara JIKF 2026, RDA Yuristianto, mengatakan OLLANESIA diselenggarakan sebagai upaya mengenalkan kembali budaya layang-layang kepada pelajar melalui jalur pendidikan.
BACA JUGA:Polres Mesuji Gelar Apel Siaga Kompi I, Pastikan Kamtibmas Aman Selama Libur Panjang
"Adanya olimpiade ini semoga bisa memperkenalkan layang-layang kepada generasi muda dan kami juga bekerja sama dengan Pusat Prestasi Nasional untuk menyiapkan piagam penghargaan bagi pemenang dengan harapan bisa menunjang prestasi mereka," ujar Yuristianto.
Ketua Panitia OLLANESIA 2026, Rizal Rusyadi, mengatakan olimpiade tersebut merupakan yang pertama di Indonesia dengan sasaran utama peserta didik. Menurutnya, kompetisi ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pelestarian layang-layang secara berkelanjutan.
"Harapannya dengan menyasar anak-anak melalui ranah pendidikan, kita bisa memantik mereka untuk mengenal kembali dan melestarikan layangan tradisional di daerah masing-masing," kata Rizal.
Selama kompetisi berlangsung, peserta dinilai berdasarkan sejumlah aspek, di antaranya teknik penerbangan, kreativitas desain, inovasi, estetika, stabilitas terbang, serta konstruksi layang-layang. Penilaian dilakukan oleh tiga dewan juri yang memiliki kompetensi di bidang seni budaya dan layang-layang.
Salah seorang juri kategori merakit layang-layang tingkat SMP, Koni, dosen Program Studi Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, menilai hasil karya peserta menunjukkan kreativitas yang baik, terutama dari sisi konstruksi dan tampilan visual.
BACA JUGA:Hadiri Penyerahan Sertipikat, BPN Mesuji Dukung Pengamanan Aset Jalan
"Dalam desain, para peserta memang tidak berbeda jauh karena bentuknya layang-layang dua dimensi. Namun yang membedakan adalah konstruksinya. Layang-layang yang dihasilkan peserta tingkat SMP sudah cukup kreatif dari segi visual," ungkapnya.
Ia menambahkan, layang-layang tidak hanya merupakan permainan tradisional, tetapi juga karya seni yang memadukan berbagai disiplin ilmu, mulai dari desain visual, aerodinamika, pemilihan material, hingga teknik konstruksi.
Penyelenggaraan OLLANESIA 2026 mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, serta Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat pelestarian budaya sekaligus mendorong pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif melalui penyelenggaraan festival layang-layang berskala nasional maupun internasional.
- Tag
- Share
-