Hal ini penting karena bahan alami tidak serta-merta bebas dari efek samping. Masyarakat perlu memahami penggunaannya secara rasional dan tidak menjadikan tanaman obat sebagai pengganti pengobatan medis tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Dengan pembekalan tersebut, anggota KWT Joho Mandiri diharapkan tidak hanya mampu menanam dan mengolah tanaman obat, tetapi juga dapat menerapkan pengetahuan mengenai keamanan herbal dalam kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA:SMSI dan RRI Sepakat Perkuat Kerja Sama untuk Melawan Penyebaran Hoaks
Perempuan Punya Peran dalam Edukasi Kesehatan Keluarga
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana akrab dan interaktif ini turut mendapat dukungan dari Pemerintah Padukuhan Joho. Dukuh Joho, Retnaningsih, A.Md., hadir untuk memberikan sambutan sekaligus mendukung pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat tersebut.
Fivy menilai anggota KWT memiliki posisi penting dalam memperkenalkan kebiasaan hidup sehat, terutama di lingkungan keluarga. Pengetahuan yang diperoleh para peserta diharapkan dapat diteruskan kepada anggota keluarga dan masyarakat sekitar.
“Sebagai anggota Kelompok Wanita Tani, ibu-ibu tidak hanya berperan menanam dan menghasilkan tanaman herbal, tetapi juga menjadi pelopor penggunaan herbal yang aman dan bijak di lingkungan keluarga,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dapat dilanjutkan dengan penerapan pengetahuan dalam pengelolaan kebun TOGA dan pemanfaatan hasil panen. Pengembangan produk herbal juga menjadi salah satu peluang yang dapat dijajaki oleh kelompok.
“Harapannya, KWT dapat menjadi motor penggerak ketahanan pangan serta pusat inovasi kesehatan keluarga yang berkelanjutan di lingkungan sekitar,” ucap Fivy.
Pengembangan TOGA di Padukuhan Joho juga memiliki relevansi dengan kondisi wilayah Condongcatur yang terus berkembang sebagai kawasan perkotaan. Di tengah keterbatasan lahan pekarangan, masyarakat tetap dapat memanfaatkan ruang yang tersedia untuk menanam berbagai tanaman produktif.
Selain membantu mempertahankan kegiatan bercocok tanam, pemanfaatan pekarangan juga dapat menjadi sarana bagi keluarga untuk mengenal dan membudidayakan tanaman yang bermanfaat.
BACA JUGA:Bahas HPN dan Porwanas 2027, PWI Pringsewu Sebut 85 Persen Program Kerja Terealisasi
Bibit Tanaman Diserahkan kepada KWT Joho Mandiri
Sebagai bagian dari kegiatan, Fakultas Farmasi UGM turut menyerahkan bibit tanaman kepada anggota KWT Joho Mandiri. Penyerahan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan kebun tanaman obat di lingkungan Padukuhan Joho. Kegiatan kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama.
Kolaborasi antara Fakultas Farmasi UGM dan KWT Joho Mandiri diharapkan dapat berlanjut melalui penguatan keterampilan anggota kelompok. Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi teknik budidaya, pengolahan hasil panen, pemahaman keamanan penggunaan herbal, serta pengembangan produk olahan.
Melalui pendampingan tersebut, tanaman obat yang selama ini tumbuh di pekarangan rumah memiliki peluang untuk dimanfaatkan lebih optimal. Hasil budidaya tidak hanya dapat digunakan untuk kebutuhan keluarga, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.