UGM Dorong Tanaman Obat Keluarga Jadi Peluang Usaha, KWT Joho Mandiri Dapat Pendampingan

Rabu 04-11-2026,06:00 WIB
Reporter : Faqih
Editor : Alvin Septian

SLEMAN, LAMPUIJO.CO.ID – Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) tidak hanya dapat menunjang kesehatan rumah tangga, tetapi juga membuka peluang usaha bagi masyarakat. Potensi inilah yang didorong Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui kegiatan pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) Joho Mandiri di Padukuhan Joho, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (31/10/2026).

Melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “TOGA Berdaya, Keluarga Sehat, Ekonomi Menguat: Pemberdayaan KWT dari Kebun hingga Klinik”, masyarakat diajak mengenal lebih jauh budidaya tanaman obat, cara pengolahan herbal yang tepat, hingga keamanan penggunaannya. Kegiatan ini juga memperkenalkan potensi pengembangan produk olahan herbal yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi keluarga.

Penyuluhan yang dimulai pukul 15.30 WIB tersebut menghadirkan akademisi Fakultas Farmasi UGM dari bidang kefarmasian. Materi yang diberikan tidak hanya membahas manfaat tanaman obat, tetapi juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kualitas bahan dan keamanan saat menggunakannya.

Pengampu kegiatan pengabdian kepada masyarakat Fakultas Farmasi UGM, Dr. apt. Fivy Kurniawati, S.Farm., M.Sc., menyampaikan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam pemberdayaan KWT menjadi salah satu cara untuk mengembangkan potensi yang dimiliki masyarakat setempat.

“Kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi akademisi dan masyarakat dalam mengoptimalkan potensi lokal, khususnya melalui pemberdayaan Kelompok Wanita Tani,” ujar Fivy.

Ia menjelaskan, keberadaan tanaman obat di lingkungan rumah memiliki manfaat yang lebih luas. Selain menjadi bagian dari tradisi masyarakat dalam menjaga kesehatan keluarga, TOGA juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai jual.

Namun, menurut Fivy, pemanfaatannya perlu disertai pengetahuan mengenai pengolahan dan kualitas bahan. Tanaman yang dipanen dari pekarangan harus dipastikan bersih dan layak digunakan.

“Kebun TOGA bukan hanya menghasilkan tanaman yang bermanfaat, tetapi juga harus menghasilkan bahan herbal yang bersih, berkualitas, dan aman untuk keluarga,” jelasnya.

BACA JUGA:Pemberhentian Firdaus Dipersoalkan, Mengapa Tak Ada Tabayun?

Masyarakat Dibekali Pengetahuan Budidaya dan Keamanan Herbal

Untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang membahas TOGA dari sudut pandang kefarmasian.

Apt. Purwanto, M.Sc., Ph.D., menjadi narasumber pertama dengan materi seputar pengenalan tanaman obat keluarga. Ia membahas berbagai jenis tanaman yang berpotensi dimanfaatkan untuk kesehatan, teknik budidaya, serta cara pengolahan bahan herbal.

Pembahasan juga diarahkan pada peluang usaha dari hasil budidaya tanaman obat. Anggota KWT diperkenalkan dengan aspek perizinan produk industri rumah tangga dan sertifikasi halal sesuai ketentuan yang berlaku. Pengetahuan tersebut menjadi bekal awal bagi masyarakat apabila ingin mengembangkan hasil kebun menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi.

Materi berikutnya disampaikan Dr. apt. Woro Harjaningsih, Sp.FRS., yang mengulas keamanan penggunaan herbal dari perspektif farmasi klinis.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kemungkinan interaksi antara bahan herbal dan obat-obatan medis. Penggunaan herbal, menurut materi yang disampaikan, tetap perlu mempertimbangkan manfaat, risiko, kondisi kesehatan seseorang, serta obat lain yang sedang dikonsumsi.

Kategori :