Pesan yang ingin disampaikan kemudian dikembangkan melalui pendekatan komedi absurd agar dapat diterima penonton dengan cara yang lebih ringan tanpa menghilangkan makna cerita.
Dalam proses produksinya, Ito bekerja sama dengan penulis skenario Endik Koeswoyo. Proses penulisan naskah berlangsung sekitar tiga setengah hingga empat bulan.
Kedekatan latar belakang budaya Jawa juga menjadi salah satu faktor yang membantu pengembangan dialog dan karakter dalam film tersebut.
Ito menyebut kolaborasi dengan Woko Channel sebagai upaya membawa kekuatan cerita kreator lokal ke industri layar lebar.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial telah membuka kesempatan bagi kreator dari berbagai daerah untuk memperkenalkan karya kepada masyarakat yang lebih luas.
"Di era internet ini semua orang punya kesempatan yang sama," ungkapnya.
BACA JUGA:Polres Mesuji Gerebek 2 Lokasi Narkoba, Sita 230 Pil Ekstasi, Sabu dan Senpi Rakitan
Dara Sarasvati Ungkap Tantangan Memerankan Sukma
Sementara itu, Dara Sarasvati mengaku karakter Sukma memberikan pengalaman tersendiri dalam perjalanan karier aktingnya.
Sosok Sukma digambarkan sebagai perempuan dengan karakter kuat dan berani, tetapi juga memiliki sisi emosional yang mendalam.
Dara menilai karakter tersebut cukup dekat dengan kehidupan perempuan, terutama dalam menggambarkan ketulusan dan pengorbanan dalam hubungan percintaan.
"Karakter Sukma di sini itu mewakili perempuan-perempuan, enggak cuman remaja, termasuk gue juga," kata Dara.
Menurutnya, film ini turut menggambarkan bagaimana seorang perempuan kerap memberikan waktu, perhatian, dan cinta secara tulus kepada orang yang disayanginya.
Untuk mendalami karakter tersebut, Dara terlebih dahulu mempelajari naskah dan memahami makna emosional di balik setiap dialog.
BACA JUGA:Lewat Green Policing, Polres Mesuji Gelar Kerja Bakti dan Tanam 15 Pohon di Masjid
Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah menjaga konsistensi emosi ketika harus memainkan adegan komedi dan drama secara bergantian.