SLEMAN, LAMPUIJO.CO.ID — Peringatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman berlangsung khidmat di Lapangan Denggung, Sleman, Sabtu (23/5/2026). Dalam momentum tersebut, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengajak seluruh masyarakat menjaga budaya, kerukunan sosial, dan nilai-nilai kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan daerah.
Upacara budaya tersebut tetap berlangsung meriah meski sempat diguyur hujan yang menyebabkan rangkaian kegiatan mengalami keterlambatan hingga selesai sekitar pukul 17.00 WIB.
Sri Sultan Hamengkubuwono X bertindak sebagai Pengageng Upacara dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-110 yang tahun ini mengusung tema “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman”.
Dalam Sabdatama yang disampaikan di hadapan peserta upacara dan masyarakat, Sri Sultan menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum memperkuat persatuan dan pengabdian kepada masyarakat.
BACA JUGA:Gubernur Lampung Perkenalkan Dua Anak Harimau Sumatera di Taman Satwa Lembah Hijau
“Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman bukan sekadar seremoni tahunan, namun menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, menjaga harmoni sosial, dan meneguhkan pengabdian kepada masyarakat serta negara,” ujar Sri Sultan HB X.
Menurut Sri Sultan, tema “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman” mengandung makna semangat bersama dalam menjaga keselamatan, keharmonisan, dan kesejahteraan masyarakat Sleman.
Ia menekankan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan infrastruktur, tetapi juga harus diimbangi dengan upaya menjaga ketenteraman batin, kerukunan sosial, serta kelestarian budaya dan lingkungan.
Sri Sultan HB X juga mengingatkan pentingnya falsafah Yogyakarta “Hamemayu Hayuning Bawana” sebagai pedoman moral dalam kehidupan masyarakat maupun penyelenggaraan pemerintahan.
BACA JUGA:Ketua DPD Golkar Mesuji Lantik Pengurus PK dan Pimdes se-Kecamatan Panca Jaya
“Rahayuning bawana tidak hanya berarti keselamatan lahiriah, tetapi juga ketenteraman hati, persatuan masyarakat, dan keharmonisan kehidupan bersama,” tegasnya.
Selain itu, Sri Sultan turut mengajak masyarakat menanamkan nilai “Tri Satya Brata”, yakni membangun budi pekerti luhur, menjaga kelestarian bumi, serta mewujudkan keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Rangkaian upacara diawali kirab Marching Band STPN dan prosesi Kirab Pusaka dari Pendapa Parasamya menuju Lapangan Denggung. Salah satu prosesi yang menjadi perhatian masyarakat adalah kirab pusaka Tombak Kanjeng Kyai Turunsih yang sarat nilai sejarah dan filosofi budaya Jawa.
Berbagai bregada dari kapanewon, kalurahan, hingga instansi se-Kabupaten Sleman turut ambil bagian dalam upacara dengan mengenakan pakaian adat Jawa gaya Yogyakarta lengkap.
Sebanyak 34 personel Barisan Bregada Kalurahan Condongcatur juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Sebelum menuju lokasi upacara, seluruh personel mengikuti briefing dan foto bersama di halaman Kantor Kalurahan Condongcatur.