Bupati Gunungkidul Dorong Jemput Bola Deteksi TBC Lewat Program ACF

Sabtu 18-04-2026,13:23 WIB
Reporter : Faqih
Editor : Alvin Septian

GUNUNGKIDUL, LAMPUIJO.CO.ID -- Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.P., meninjau langsung kegiatan penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) secara aktif atau active case finding (ACF) yang digelar di halaman Puskesmas Karangmojo II, Kamis (9/4/2026) pagi. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah konkret pemerintah daerah dalam mempercepat upaya eliminasi TBC.

Program ACF yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul bekerja sama dengan Zero TB Yogyakarta tersebut menjadi awal dari rangkaian 30 kegiatan serupa yang akan digelar di seluruh puskesmas di wilayah Gunungkidul.

Peninjauan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia yang dipusatkan di Balai Budaya Kalurahan Bejiharjo, yang lokasinya tidak jauh dari pelaksanaan kegiatan.

Dalam sambutannya, Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan pentingnya pendekatan aktif dalam menemukan kasus TBC di tengah masyarakat. Menurutnya, tenaga kesehatan tidak bisa hanya mengandalkan pasien yang datang berobat.

“ACF ini langkah yang strategis dan progresif. Kita harus jemput bola, tidak hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan,” ujar Endah.

Ia turut mengapresiasi target pemeriksaan yang menyasar sekitar 3.000 warga. Selain itu, penggunaan teknologi dinilai mampu mempercepat proses deteksi dini penyakit tersebut.

“Peralatannya sudah canggih, dalam waktu lima menit hasil rontgen paru-paru bisa langsung diketahui,” katanya.

Bupati juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu mengikuti pemeriksaan, mengingat layanan yang diberikan dalam kegiatan ini tidak dipungut biaya.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa kasus TBC masih seperti fenomena gunung es, di mana jumlah kasus yang terdeteksi saat ini diyakini belum mencerminkan kondisi sebenarnya di masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Ismono, S.Si.T., M.Kes., mengungkapkan bahwa capaian penemuan kasus TBC di daerahnya baru mencapai 43 persen dari estimasi yang ditetapkan.

“ACF ini menjadi pelengkap dari metode passive case finding yang selama ini berjalan,” jelasnya.

Di sisi lain, Direktur Zero TB Yogyakarta, dr. Rina Triasih, M.Med (Paed), Ph.D., Sp.A(K)., menjelaskan bahwa metode ACF dilakukan melalui pemeriksaan rontgen dada untuk meningkatkan peluang deteksi kasus, termasuk pada individu yang belum menunjukkan gejala.

“Orang tanpa gejala pun bisa terdeteksi melalui rontgen. Jika ditemukan indikasi TBC, akan dilanjutkan dengan pemeriksaan dahak untuk memastikan diagnosis,” terangnya.

Menurut dr. Rina Triasih, penemuan kasus sejak dini sangat penting untuk menekan penularan di masyarakat. Dengan diagnosis lebih cepat, pasien dapat segera menjalani pengobatan sehingga risiko penyebaran bisa diminimalkan.

Selain penemuan kasus aktif, upaya eliminasi TBC juga perlu diiringi pengobatan yang tepat serta langkah pencegahan. Salah satunya melalui pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) bagi mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien.

Kategori :