Vakum 11 Tahun, Jatilan Kudho Satrio Kembali Pentas di Sleman
Vakum 11 Tahun, Jatilan Kudho Satrio Kembali Pentas di Sleman--Ist
Menurut Shalahudin, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, masih memiliki kepedulian terhadap keberadaan kesenian tradisional Jawa.
Ia memandang kegiatan berkesenian juga memiliki manfaat sosial karena dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Pelestarian budaya, menurutnya, perlu dilakukan secara berkelanjutan agar generasi muda tidak kehilangan kesempatan untuk mengenal kesenian yang diwariskan para pendahulu.
Shalahudin berharap kebangkitan Kudho Satrio tidak berhenti pada satu pementasan. Ia ingin kelompok tersebut terus berkembang dan kembali menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Soropadan.
BACA JUGA:Pemkab Lampung Tengah Matangkan Laporan Aksi HAM 2027, Ini Fokus Pembahasannya
Kesenian Tradisional Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi
Apresiasi serupa disampaikan Kamituwa Kalurahan Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, S.IP.
Al Thouvik menilai kebangkitan Kudho Satrio menjadi salah satu bukti bahwa kesenian tradisional masih mendapat tempat di tengah masyarakat, meskipun Condongcatur terus berkembang sebagai kawasan suburban atau penyangga perkotaan Yogyakarta.
Perkembangan wilayah yang semakin modern, menurutnya, tidak harus membuat masyarakat meninggalkan kebudayaan lokal.
Sebaliknya, keberadaan kelompok seni tradisional dapat menjadi sarana menjaga identitas budaya sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk tetap terlibat dalam kegiatan kesenian.
Al Thouvik mengatakan, selain Kudho Satrio, sejumlah kelompok jatilan di wilayah Condongcatur juga masih aktif mempertahankan keberadaannya melalui berbagai pementasan.
“Kelompok atau grup seni kuda lumping atau jatilan di Condongcatur yang masih tetap eksis dan sering pentas adalah Kudo Prasetya dari Pohruboh-Pikgondang, Roso Tunggal dari Padukuhan Pondok, dan PS Madu Mudo Turonggo dari Padukuhan Kayen, yang pada Minggu, 18 Oktober 2026, juga menggelar pentas di Green Kayen,” ujar Al Thouvik.
Ia menilai hadirnya kembali Kudho Satrio menambah keberagaman kelompok seni tradisional yang masih berkembang di Kalurahan Condongcatur.
Kebangkitan tersebut sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam kegiatan budaya, baik sebagai penari, pemain musik, maupun pengelola paguyuban.
Keterlibatan generasi penerus dinilai penting agar kelompok kesenian yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat tidak kembali mengalami kevakuman.
- Tag
- Share
-