Pemkot Yogyakarta Dorong Industri Kreatif, Bidik Peluang Jadi Pusat Perfilman Nasional

Pemkot Yogyakarta Dorong Industri Kreatif, Bidik Peluang Jadi Pusat Perfilman Nasional

Pemkot Yogyakarta Dorong Industri Kreatif, Bidik Peluang Jadi Pusat Perfilman Nasional--Ist

Yogyakarta menjadi salah satu kota yang masuk dalam rangkaian pemutaran khusus sebelum film tersebut resmi ditayangkan secara nasional.

Ito mengatakan, film Piye To Kih? sengaja dibuat dengan mengedepankan unsur budaya lokal, terutama melalui penggunaan bahasa Jawa. Sekitar 85 persen dialog dalam film menggunakan bahasa Jawa dengan tambahan subtitle untuk membantu penonton dari daerah lain mengikuti jalan cerita.

Menurut Ito, penggunaan bahasa daerah tidak seharusnya menjadi penghalang bagi sebuah film untuk menjangkau penonton nasional. Sebaliknya, keberagaman bahasa dapat menjadi kekuatan tersendiri bagi industri perfilman Indonesia.

“Negara kita sebenarnya memiliki banyak sekali budaya dan bahasa. Kami ingin ikut memperkaya nilai-nilai budaya Indonesia. Kenapa tidak menggunakan bahasa Jawa? Kami berharap nantinya banyak film lain yang lahir dengan menggunakan bahasa daerahnya masing-masing, tidak hanya bahasa Jawa,” jelasnya.

Film yang telah dinyatakan lolos sensor untuk penonton berusia 13 tahun ke atas ini bercerita tentang Mukidi, seorang pria yang berpura-pura menjadi orang kaya demi mendapatkan perempuan yang dicintainya.

BACA JUGA:Polres Mesuji Gerebek 2 Lokasi Narkoba, Sita 230 Pil Ekstasi, Sabu dan Senpi Rakitan

Untuk meyakinkan pujaan hatinya, Mukidi berusaha membeli sebuah rumah. Namun, rumah yang dibelinya ternyata angker dan menyimpan sejumlah kejadian misterius.

Persoalan bermula ketika Mukidi menemukan boneka yang berkaitan dengan arwah seseorang yang telah meninggal sekitar 20 tahun lalu. Sejak saat itu, berbagai peristiwa tak terduga mulai terjadi dan membawa perubahan dalam kehidupannya.

Meski dibalut komedi dan kejadian supranatural, Ito menegaskan bahwa cerita film tersebut lebih menitikberatkan pada perjalanan seseorang dalam memperbaiki diri.

“Film ini berbicara tentang seseorang yang berpura-pura kaya untuk mendapatkan pujaan hatinya. Celakanya, rumah yang dibeli ternyata rumah angker. Namun, justru kerumitan situasi yang dihadapi itu membentuk Mukidi untuk menjadi versi baru dirinya. Pesannya adalah memantaskan diri terlebih dahulu sebelum menginginkan sesuatu,” tuturnya.

Dalam film ini, karakter Mukidi dimainkan Heri Chandra, sedangkan Dara Sarasvati memerankan Sukma. Sejumlah pemain lain juga terlibat, di antaranya Sutrisno Agung sebagai Gendut dan Eko Dunung sebagai Penyok.

Film tersebut turut dibintangi Marwoto, Ibnu Gundul, Yono Bakrie, Wiyono, Rizka Oktavia, Faisal Wash, Fajar Mukti, Sky Sitorus, Gabriella Desta, TJ Ruth, Devina Aureel, Lorenzo Gibbs, dan Ivone Dahler.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa, dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Andrini Wiramawati, menyampaikan apresiasinya terhadap film yang menjadikan bahasa daerah sebagai bagian penting dalam penyampaian cerita.

Andrini mengatakan, upaya mengenalkan budaya melalui perfilman juga dilakukan lewat penyelenggaraan Kota Baru Heritage Film Festival yang sudah berjalan sejak 2023.

BACA JUGA:Lewat Green Policing, Polres Mesuji Gelar Kerja Bakti dan Tanam 15 Pohon di Masjid

Tag
Share
Berita Lainnya