Festival Sastra Yogyakarta 2026 Resmi Digelar, Angkat Tema LAKU dan Perkuat Ekosistem Sastra
Festival Sastra Yogyakarta 2026 Resmi Digelar, Angkat Tema LAKU dan Perkuat Ekosistem Sastra--Ist
Selain orasi budaya, pembukaan akan melibatkan anak-anak pemenang kompetisi bahasa dan sastra yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Keterlibatan generasi muda tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas apresiasi sekaligus regenerasi sastra.
Sementara itu, panggung penutupan FSY 2026 akan digelar Sabtu (29/8/2026) di Amphitheatre Taman Budaya Embung Giwangan.
Agenda tersebut akan dirangkai dengan Malam Anugerah Sayembara Puisi Nasional FSY 2026. Hingga Rabu (19/8/2026), panitia mencatat sekitar 2.500 karya puisi telah masuk dari penulis di berbagai daerah di Indonesia.
Sayembara tersebut memiliki total hadiah Rp5 juta dengan juri An Ismanto, Hasta Indriyana dan Nur Wahida Idris.
Panggung penutupan juga akan menghadirkan Dee Lestari dan Kiai Kanjeng.
Perkuat Sastra Indonesia dan Sastra Jawa
FSY 2026 juga memberikan perhatian terhadap keberadaan sastra Indonesia dan sastra Jawa dalam satu ruang festival.
Menurut Yetty, Yogyakarta memiliki posisi penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern sekaligus mempunyai tradisi sastra Jawa yang panjang dan masih hidup di masyarakat.
Karena itu, kedua tradisi tersebut tidak ditempatkan sebagai wilayah yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari ekosistem sastra Yogyakarta.
“FSY 2026 berupaya memberikan ruang bagi bahasa, karya, pelaku, komunitas dan tradisi sastra Indonesia maupun sastra Jawa,” ungkapnya.
Penyelenggaraan FSY 2026 melibatkan berbagai pihak, di antaranya IKAPI DIY, Suku Sastra, Jawacana, Balai Bahasa DIY, Prodi Sastra Jawa FIB UGM, Magister Sastra UGM, Dinkop UMKM DIY, komunitas aksara Jawa se-DIY/Jateng, komunitas sastra, sastrawan, budayawan, akademisi, penerbit dan pelaku industri buku.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sastra tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Pemerintah berperan menyediakan ruang, fasilitasi dan dukungan kebijakan, sementara komunitas, sastrawan, akademisi, penerbit dan masyarakat turut menghidupkan ekosistem melalui pengetahuan, jaringan dan kreativitas.
BACA JUGA:Rayakan HUT ke-81 RI, InJourney Bangun Rumah Layak Huni untuk Warga Sleman
Festival sebagai Ruang Bersama
- Tag
- Share
-