Pengamat: Kunjungan Modi Jadi Momentum Bangkitkan Kejayaan Peradaban Nusantara

Pengamat: Kunjungan Modi Jadi Momentum Bangkitkan Kejayaan Peradaban Nusantara

Pengamat sosial-politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Cep Deni Muchlis,--Ist

JAKARTA, LAMPUIJO.CO.ID – Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia dinilai tidak hanya memiliki arti penting dalam memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga dapat menjadi momentum membangkitkan kembali kesadaran Indonesia sebagai bangsa yang memiliki sejarah panjang dalam jaringan peradaban dunia.

Pengamat sosial-politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Cep Deni Muchlis, mengatakan hubungan Indonesia dan India sejatinya telah terjalin jauh sebelum kedua negara berdiri sebagai negara modern. Menurutnya, kedatangan Modi seharusnya dimaknai lebih luas daripada sekadar agenda diplomasi yang menghasilkan berbagai kesepakatan kerja sama.

"Setiap kunjungan kepala negara atau kepala pemerintahan dari negara sahabat harus dimaknai sebagai momentum memperkuat kolaborasi. Khusus dengan India, hubungan kita sebenarnya telah terbangun jauh sebelum Indonesia dan India menjadi negara modern seperti sekarang," kata Cep di Jakarta, Jum'at (10/7/2026).

Ia menjelaskan, sejak berabad-abad silam Nusantara telah menjadi bagian dari jalur perdagangan internasional yang menghubungkan berbagai pusat peradaban dunia. Pelabuhan-pelabuhan di Sumatera, Jawa, hingga Maluku menjadi titik temu para pedagang dari India, Tiongkok, Timur Tengah, dan kawasan lainnya.

BACA JUGA:Budi Santosa Asrori Resmi Dilantik Jadi Sekda Kota Yogyakarta

Menurut Cep, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modal sejarah yang kuat sebagai bangsa maritim sekaligus bangsa perdagangan.

"Tanah yang kita pijak hari ini pernah menjadi ruang pertemuan berbagai peradaban besar dunia. Sejak abad ke-12 hingga ke-14, Nusantara telah aktif berinteraksi dengan pusat-pusat perdagangan internasional. Artinya, kita memiliki modal sejarah yang sangat kuat sebagai bangsa maritim dan bangsa perdagangan," ungkapnya.

Cep menambahkan, jejak historis tersebut juga tercatat dalam karya penjelajah Muslim Ibn Battuta berjudul The Travels of Ibn Battuta (1325–1354) yang menggambarkan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, serta aktivitas perdagangan di kawasan Nusantara sebagai bagian penting dari jaringan perdagangan dunia.

Ia menilai, sejumlah negara saat ini membangun masa depan dengan mengangkat kembali narasi kejayaan sejarahnya. Karena itu, Indonesia juga perlu menyusun visi pembangunan yang berpijak pada kekuatan historis yang dimiliki.

"Kedatangan Modi jangan membuat kita menjadi 'moodyan'. Jangan hanya antusias ketika ada tamu negara datang, lalu selesai begitu saja. Kita harus melihat setiap kerja sama internasional sebagai bagian dari upaya membangun kembali kejayaan Indonesia sebagai bangsa yang sejak dahulu menjadi simpul penting peradaban dunia," tuturnya.

BACA JUGA:InJourney Sambut Kolaborasi Indonesia–India untuk Konservasi Candi Prambanan

Lebih lanjut, Cep menekankan bahwa tindak lanjut pemerintah tidak cukup hanya pada implementasi kerja sama yang telah disepakati, tetapi juga perlu diiringi dengan pembangunan narasi besar mengenai posisi strategis Indonesia dalam sejarah peradaban dunia.

"Kerja sama tentu penting, tetapi membangun cara pandang bangsa jauh lebih penting. Jika setiap hubungan internasional ditempatkan dalam kerangka besar kebangkitan peradaban Nusantara, maka Indonesia tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi dan politik, tetapi juga kepercayaan diri sebagai bangsa yang memiliki sejarah besar untuk kembali diperhitungkan dunia," pungkasnya. (Faqih).

Tag
Share
Berita Lainnya