Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Lepas Ekspor Perdana 3.300 Ton Tapioka Lampung ke Tiongkok
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Lepas Ekspor Perdana 3.300 Ton Tapioka Lampung ke Tiongkok--Ist
Pada 2025, harga singkong sempat jatuh hingga Rp400–Rp500 per kilogram, yang berdampak pada rendahnya pendapatan petani.
Sebagai langkah strategis, Gubernur Mirza menyampaikan bahwa pemerintah daerah bersama pemerintah pusat mengambil kebijakan penghentian impor tapioka guna melindungi pasar domestik.
Kebijakan ini diharapkan memberi ruang bagi petani dan industri lokal untuk tumbuh lebih kuat.
BACA JUGA:Libur Panjang May Day 2026, KAI Daop 6 Yogyakarta Catat 189 Ribu Penumpang
“Kalau ingin memakmurkan petani, industrinya juga harus didorong. Kita ingin berjalan bersama, bukan saling melemahkan,” tegasnya.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Lampung juga mendorong penguatan riset melalui rencana pembentukan Lampung National Cassava Center bekerja sama dengan Universitas Lampung, guna menghasilkan bibit unggul dan meningkatkan produktivitas serta kualitas singkong.
Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha dan dukungan lembaga terkait, Gubernur Mirza optimistis dapat memperkuat posisi Lampung sebagai pusat industri tapioka nasional sekaligus pemain penting di pasar global.
Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Badan Karantina Indonesia Drama Panca Putra menyampaikan bahwa singkong merupakan komoditas strategis yang memiliki potensi besar dalam hilirisasi industri.
“Tepung tapioka memiliki pemanfaatan yang sangat luas, mulai dari industri makanan, farmasi, tekstil hingga kertas. Ini menunjukkan bahwa hilirisasi singkong memiliki nilai tambah yang tinggi,” jelasnya.
BACA JUGA:DPD RI DIY Pastikan Stok Pangan Aman, Bulog Catat Surplus Beras dan Serapan Petani Meningkat
Ia menambahkan, saat ini pasar utama ekspor tapioka Indonesia masih didominasi oleh Tiongkok, disusul Filipina, Selandia Baru, dan Taiwan.
Sepanjang 2025, ekspor mencapai sekitar 22.500 ton dengan nilai lebih dari Rp130 miliar.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar ke depan adalah menjaga kualitas dan kontinuitas produk agar mampu memenuhi standar pasar global yang semakin ketat.
“Kunci keberhasilan ekspor adalah kualitas dan kepercayaan. Produk harus aman, bermutu, dan memenuhi persyaratan negara tujuan,” ujarnya.
Di sisi lain, CEO Intan Group Jeremy Gozal mengungkapkan bahwa ekspor perdana ini merupakan hasil dorongan kuat dari Pemerintah Provinsi Lampung untuk memperluas pasar ke tingkat internasional.
- Tag
- Share
-