Keberhasilan FSY, kata Yetty, tidak hanya dilihat dari jumlah kegiatan maupun pengunjung. Lebih jauh, festival diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap sastra, membuka ruang apresiasi serta memperkuat keberlanjutan ekosistem sastra di Yogyakarta.
“Festival ini bukan hanya festival yang ditonton, tetapi ruang yang diikuti, digunakan dan dihidupkan bersama,” terang Yetty.
Melalui FSY 2026 bertema LAKU, Pemkot Yogyakarta menegaskan sastra sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan masyarakat. Sastra dipandang bukan hanya sebagai karya, tetapi juga cara masyarakat membaca kehidupan, memahami perubahan zaman, menyimpan ingatan dan membangun perspektif terhadap lingkungan sosial.
Festival Sastra Yogyakarta 2026 terbuka bagi masyarakat dan berlangsung 23–30 Agustus 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta. (Faqih).