YOGYAKARTA, LAMPUIJO.CO.ID – Ribuan warga bersama unsur pemerintah, komunitas, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan berbagai elemen masyarakat mengikuti aksi "Ngepel Malioboro" yang digelar Pemerintah Kota Yogyakarta dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jum'at (12/6/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Malioboro tersebut menjadi bagian dari gerakan bersih-bersih serentak yang dilaksanakan di 150 titik di seluruh wilayah Kota Yogyakarta.
Penjabat Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, mengatakan kegiatan itu bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Kita ingin menegaskan bahwa kebersihan kota bukan hanya urusan petugas kebersihan atau pemerintah, tetapi menjadi budaya seluruh warga,” kata Dedi.
BACA JUGA:Pemkot Yogyakarta Gandeng Kemenag, Perkuat Pendidikan Keagamaan dan Pelayanan Publik
Menurutnya, Malioboro dipilih sebagai lokasi utama karena merupakan ikon wisata Kota Yogyakarta yang menjadi salah satu tujuan utama wisatawan. Kebersihan kawasan tersebut dinilai berperan penting dalam membangun citra kota yang nyaman dan ramah bagi pengunjung.
“Ketika wisatawan datang ke Kota Yogyakarta, salah satu tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Malioboro. Karena itu, kita ingin setiap tamu yang datang ke Kota Yogyakarta merasakan ruh Jogja Berhati Nyaman yang sesungguhnya,” ungkapnya.
Selain aksi bersih-bersih, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, mengatakan dalam kesempatan itu Pemkot menerima bantuan 600 unit ember organik dari Perseroda BPR Bank Jogja.
Bantuan tersebut akan digunakan untuk memperluas pengelolaan sampah organik yang saat ini telah berjalan melalui sekitar 1.200 ember organik dengan kapasitas pengolahan mencapai 30 ton sampah per hari.
BACA JUGA:Dihadiri Ribuan Jamaah, Pemkot Yogyakarta Siapkan 28 Ambulans untuk Pengajian Akbar HUT ke-79
Selain itu, bantuan sarana biopori juga diberikan kepada sejumlah pondok pesantren di Kota Yogyakarta sebagai bagian dari pengembangan Gerakan Mas JOS berbasis santri.
Rajwan menyebut saat ini Kota Yogyakarta telah memiliki sekitar 800 unit biopori jumbo yang dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sampah organik sekaligus meningkatkan daya serap air di kawasan perkotaan.
Dalam kegiatan tersebut, Pemkot Yogyakarta juga memberikan penghargaan kepada lokasi kerja bakti terbaik. Kelurahan Patangpuluhan meraih juara pertama melalui kegiatan di Jalan Patangpuluhan. Posisi kedua diraih Kelurahan Cokrodiningratan di kawasan Jalan Dr. Sardjito hingga Jalan RW Monginsidi, sementara Kelurahan Suryatmajan menempati posisi ketiga melalui kegiatan di sepanjang Jalan Abu Bakar Ali.
Adapun penghargaan harapan pertama diberikan kepada Kelurahan Gowongan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman dan harapan kedua diraih Kelurahan Muja Muju di Jalan Kenari.