Pameran Sumbu Filosofi Yogyakarta Jadi Ruang Edukasi Budaya

Kamis 23-04-2026,18:00 WIB
Reporter : Faqih
Editor : Alvin Septian

YOGYAKARTA, LAMPUIJO.CO.ID – Pameran bertajuk “Sumbu Filosofi Yogyakarta dan Penanda Sejarahnya” digelar di Lobi Timur Stasiun Yogyakarta pada Sabtu–Minggu, 18–19 April 2026. Kegiatan yang terbuka untuk umum ini menjadi salah satu upaya menghadirkan ruang edukasi sekaligus mendorong pelestarian budaya di tengah masyarakat.

Pameran ini merupakan hasil kolaborasi sejumlah lembaga, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya TU Wien (Vienna University of Technology) Austria, Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, serta PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 6 Yogyakarta. Kegiatan ini juga melibatkan UPT Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi (BPKSF) Dinas Kebudayaan DIY dan UGM-UNESCO Chair in Heritage Cities Conservation & Management.

Sinergi lintas institusi tersebut menjadi wujud komitmen bersama dalam menjaga sekaligus memperkenalkan kembali nilai historis Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang kaya akan makna budaya.

Sebanyak 30 mahasiswa turut ambil bagian dalam pameran ini. Mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu, yakni 10 mahasiswa S1 Konservasi Seni ISI Yogyakarta, 10 mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, serta 10 mahasiswa S2 Magister Arsitektur UGM.

BACA JUGA:Dua Malam Penuh Emosi, 'Berembuk Rasa' Tampilkan Teater Kolaboratif di Metro

Pelaksanaan pameran ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Pusaka Dunia (World Heritage Day) setiap 18 April. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap pelestarian warisan budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dan mudah dipahami.

Acara ini dihadiri oleh EVP KAI Daop 6 Yogyakarta Bambang Respationo beserta jajaran, dan secara resmi dibuka oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.

Dalam sambutannya, Hasto menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara institusi pendidikan dan BUMN yang dinilai mampu menghadirkan ruang pelestarian budaya yang lebih segar dan edukatif.

“Ini langkah penting untuk menumbuhkan pemahaman dan kecintaan generasi muda terhadap sejarah, budaya, dan kearifan lokal. Sumbu Filosofi Yogyakarta harus semakin dikenal dan dirawat bersama,” ujar Hasto.

BACA JUGA:PSB SMAS TMI Roudlatul Qur’an Metro Berjalan Lancar, Pendaftaran Tiga Gelombang Dibuka hingga Juni 2026

Sumbu Filosofi Yogyakarta sendiri merupakan warisan budaya yang dirancang oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I pada 1755. Kawasan ini menggambarkan filosofi kehidupan masyarakat Jawa yang tercermin dalam tata ruang kota, bangunan, tradisi, hingga unsur alam yang membentang dari selatan ke utara, termasuk kawasan Stasiun Yogyakarta.

EVP KAI Daop 6 Yogyakarta Bambang Respationo mengatakan, pameran ini menjadi bagian dari komitmen KAI dalam mengembangkan fungsi stasiun sebagai ruang publik yang tidak hanya melayani transportasi, tetapi juga aktivitas sosial dan budaya.

“Melalui pameran ini, kami ingin memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat dan pengguna kereta api untuk lebih mengenal nilai sejarah dan filosofi Yogyakarta,” jelas Bambang.

Ia menambahkan, Stasiun Yogyakarta sebagai stasiun integrasi antarmoda sekaligus ruang publik bersejarah terbuka untuk berbagai kegiatan nonkomersial, terutama yang berkaitan dengan edukasi, pelestarian budaya, serta aktivitas komunitas yang positif.

BACA JUGA:PSB SMAS TMI Roudlatul Qur’an Metro Berjalan Lancar, Pendaftaran Tiga Gelombang Dibuka hingga Juni 2026

Kategori :

Terpopuler