Sinergi RS dan Kalurahan Condongcatur Perkuat Upaya Penurunan Stunting

Minggu 19-04-2026,14:00 WIB
Reporter : Faqih
Editor : Alvin Septian

SLEMAN, LAMPUIJO.CO.ID – Upaya menurunkan angka stunting di Kalurahan Condongcatur terus diperkuat lewat kolaborasi lintas sektor. Rumah Sakit Condong Catur (RS Condong Catur) bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur menggelar podcast edukatif bertajuk “Sinergi Medis dan Strategi Wilayah: Upaya Terpadu Penurunan Stunting di Condongcatur” di RS Condong Catur, Selasa (14/4/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Lurah Condongcatur, Dr. Reno Candra Sangaji, S.IP., M.IP., serta dokter spesialis anak RS Condong Catur, dr. Dhyah Listya Palupi, Sp.A. Diskusi dipandu oleh Kusdy Arjuna.

Dalam pemaparannya, Dr. Reno Candra Sangaji menyebut persoalan stunting di wilayahnya masih menjadi perhatian. Ia mengungkapkan, pada 2024 tercatat 59 kasus, yang kemudian turun menjadi 51 kasus pada 2025.

“Angka ini bisa ditekan karena kerja bersama, baik dari pemerintah kalurahan, tenaga kesehatan, maupun partisipasi masyarakat,” ujar Reno.

BACA JUGA:Jogjavaganza 2026 Jadi Ajang Strategis Perkuat Industri Pariwisata Yogyakarta

Ia menjelaskan, berbagai program terus dijalankan secara konsisten. Salah satunya Program DAHSYAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) yang mendorong keluarga memanfaatkan bahan pangan lokal bergizi. Selain itu, program pemberian makanan tambahan (PMT) juga difokuskan bagi balita serta ibu hamil yang masuk kelompok risiko.

Penguatan layanan dasar juga dilakukan melalui optimalisasi 40 Posyandu di wilayah Condongcatur. Program ini melibatkan kolaborasi antara pemerintah kalurahan, Puskesmas Depok II, dan RS Condong Catur, dengan dukungan kader kesehatan yang telah tersertifikasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.

“Yang kita bangun bukan hanya intervensi gizi, tapi juga sistemnya. Rujukan dari posyandu ke fasilitas kesehatan harus berjalan lancar,” imbuhnya.

Sementara itu, dr. Dhyah Listya Palupi, Sp.A. menegaskan bahwa stunting tidak bisa dipandang sekadar persoalan tinggi badan. Menurutnya, kondisi ini merupakan dampak dari kekurangan gizi kronis yang sering disertai infeksi berulang, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

BACA JUGA:Jalan Inspeksi Tiga Sungai di Yogyakarta Kembali Dibangun, Ini Target dan Lokasinya

Ia menjelaskan, anak yang mengalami stunting biasanya memiliki tinggi badan di bawah standar usianya, perkembangan kognitif yang kurang optimal, serta penampilan fisik yang tampak lebih muda.

“Pencegahan harus dimulai sejak awal, dari pemberian ASI eksklusif, MPASI yang bergizi, pola asuh yang tepat, sampai stimulasi perkembangan anak,” jelas dr. Dhyah.

Ia juga menekankan pentingnya pemantauan tumbuh kembang secara rutin. Dalam praktiknya, penanganan stunting dilakukan melalui sistem rujukan berjenjang, dimulai dari Posyandu, dilanjutkan ke Puskesmas, hingga ke rumah sakit apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut oleh dokter spesialis.

Tak hanya itu, dr. Dhyah Listya Palupi, Sp.A. mengingatkan bahwa pencegahan stunting sebaiknya sudah dimulai sejak sebelum kehamilan. Program perencanaan kehamilan (promil), menurutnya, menjadi langkah penting untuk mempersiapkan kondisi kesehatan ibu sejak awal, termasuk pemenuhan nutrisi seperti asam folat dan zat besi.

BACA JUGA:Kebakaran Rumah di Kotabumi Selatan Lampung Utara Tewaskan Satu Orang

Kategori :